Dengan memahami arti produktif yang sebenarnya.
Kata “produktif” seringkali disalahgunakan.
Saya baru sadar ketika melihat update-an teman. Dia ikut semacam workshop atau training gitu waktu itu. “Ya, minggu produktif!” katanya.
Kira-kira dia salah atau tidak menyebut dirinya produktif?
Setelah dipikir-pikir, update-an semacam itu tidak cuma muncul satu atau dua kali, tapi berkali-kali, dari orang yang berbeda-beda. Dan itu baru di timeline-ku. Belum lagi di timeline-mu, dan timeline teman-temanmu.
Padahal, semua aktivitas itu tidak bisa dibilang produktif.
Kenapa? Karena aktivitasnya tidak menghasilkan apa pun.
Productive muncul dari kata product (barang). Definisi productive adalah kemampuan untuk menciptakan sebuah barang. Lah kalau barangnya tidak ada? Ya tidak productive berarti.
Supaya kebayang, aku kasih contoh.
Aku punya teman yang pengen banget bikin startup. Dia rajin baca buku tentang startup dan datang ke acara networking startup. Semua yang berhubungan dengan startup pasti dia lakukan.
Kecuali satu, memulai startup dia sendiri…
Yes, baca buku dan datang ke acara networking memang terasa produktif (terasa doang ya, aku tekankan). Wajar, karena dua-duanya memang penting dalam membangun startup.
Tapi realitanya, kedua aktivitas itu tidak menghasilkan apa-apa.
Kalau dia mau bikin aplikasi, aplikasinya tetap belum ada. Kalau dia mau bikin website, website-nya tetap belum ada. Kalau dia mau riset pasar dulu sebelum bikin aplikasi maupun website, hasil risetnya tetap belum ada.
Jadi, produktif di sebelah mananya coba?
Kalau dia mau produktif beneran, harusnya dia berhenti baca buku, berhenti datang ke acara networking, lalu mulai melakukan aktivitas yang mendekatkan dia ke tujuan akhirnya.
Dia bukan mau mecahin rekor Pembaca Buku Startup Terbanyak Tahun 2020 kan? Dia bukan mau dapetin predikat Startup Enthusiast Tergaul di Indonesia kan? Dia mau jadi pendiri startup!
Kalau dia mau produktif beneran, dia bisa:
- Riset kecil-kecilan supaya ngerti kebutuhan pasar (validasi bahasa kerennya)
- Siapin bahan-bahan marketing sederhana (segmentation, targeting, positoning, unique selling point)
- Bikin prototype atau MVP supaya cepat dapet feedback dari pengguna (website atau aplikasi sederhana)
Jadi, selama kamu belum menghasilkan apa-apa, kamu belum boleh mengaku produktif.
Aku pun pernah mengalami fase produktif palsu.
Aku merasa produktif setelah membaca buku selama berjam-jam. Wajar karena membaca memang sepenting itu untuk orang yang mau menulis buku.
Tapi ya kembali lagi…
Realitanya, aku tidak menulis. Aku tidak menjadi semakin dekat dengan targetku (menyelesaikan buku pertama).
Aku cuma berdiri di garis start. Padahal, jarak antara garis start dan garis finish hanya bisa dilintasi dengan cara menulis. Baca buku tidak mendekatkanku ke garis finish. Ikut kelas online pun tidak.
Menulis adalah satu-satunya cara.
So, sebelum mengaku produktif, tanyakan ini pada diri sendiri.
- Garis finish apa yang mau kamu capai?
- Aktivitas apa yang mendekatkanmu ke sana?
Jangan pernah mengaku produktif kalau kamu belum melakukan aktivitas yang mendekatkan kamu ke garis finish itu.