This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sebagai Guru Wali bertangung jawab membina siswa yang sering tidak masuk Sekolah

Kerja sama Wakasis, Guru BK, Kaprodi SMKN 1 Ranah Batahan untuk memberikan pembinaan

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 18 November 2025

Bahan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS)


Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) 

Bahan penilaian kinerja kepala sekolah mencakup dokumen perencanaan, bukti fisik kegiatan, dan instrumen penilaian yang mengukur berbagai aspek kompetensi seperti kepribadian, manajerial, supervisi, kewirausahaan, dan sosial

Dokumen-dokumen ini digunakan untuk menilai pelaksanaan tugas di sekolah, praktik kinerja, perilaku kerja, dan pengembangan kompetensi kepala sekolah.


BAGI YANG MENGINGINKAN BAHAN PKKS SILAHKAN UNTUK DOWNLOAD

BAHAN PKKS DIBUAT OLEH ADE SUHENRA, S.Kom

1. Buku Laporan Satpam silahkan DOWNLOAD

2. Program Kerja Adiwiyata silahkan DOWNLOAD

Modul Ajar Perencanaan dan Pengalamatan Jaringan Kelas XI TJKT

 


ELEMEN : Perencanaan dan Pengalamantan Jaringan

TUJUAN PEMBELAJARAN : 

1.1  Memahami kebutuhan teknis pengguna dan peralatan jaringan dengan teknologi yang sesuai. 

1.2  Memahami perencanaan topologi dan arsitektur jaringan sesuai kebutuhan.  

1.3  Memahami pengalamatan jaringan, CIDR dan VLSM dan menghitung subnetting.


BAGI YANG MENGINGINKAN BAHAN AJAR SILAHKAN UNTUK DOWNLOAD 

MODUL AJAR DIBUAT OLEH ADE SUHENRA, S.Kom

1. Bahan Ajar TOPOLOGI JARINGAN silahkan DOWNLOAD

Kamis, 01 Desember 2022

Cara menjadi orang yang lebih produktif



 

Dengan memahami arti produktif yang sebenarnya.

Kata “produktif” seringkali disalahgunakan.

Saya baru sadar ketika melihat update-an teman. Dia ikut semacam workshop atau training gitu waktu itu. “Ya, minggu produktif!” katanya.

Kira-kira dia salah atau tidak menyebut dirinya produktif?

Setelah dipikir-pikir, update-an semacam itu tidak cuma muncul satu atau dua kali, tapi berkali-kali, dari orang yang berbeda-beda. Dan itu baru di timeline-ku. Belum lagi di timeline-mu, dan timeline teman-temanmu.

Padahal, semua aktivitas itu tidak bisa dibilang produktif.

Kenapa? Karena aktivitasnya tidak menghasilkan apa pun.

Productive muncul dari kata product (barang). Definisi productive adalah kemampuan untuk menciptakan sebuah barang. Lah kalau barangnya tidak ada? Ya tidak productive berarti.

Supaya kebayang, aku kasih contoh.

Aku punya teman yang pengen banget bikin startup. Dia rajin baca buku tentang startup dan datang ke acara networking startup. Semua yang berhubungan dengan startup pasti dia lakukan.

Kecuali satu, memulai startup dia sendiri…

Yes, baca buku dan datang ke acara networking memang terasa produktif (terasa doang ya, aku tekankan). Wajar, karena dua-duanya memang penting dalam membangun startup.

Tapi realitanya, kedua aktivitas itu tidak menghasilkan apa-apa.

Kalau dia mau bikin aplikasi, aplikasinya tetap belum ada. Kalau dia mau bikin website, website-nya tetap belum ada. Kalau dia mau riset pasar dulu sebelum bikin aplikasi maupun website, hasil risetnya tetap belum ada.

Jadi, produktif di sebelah mananya coba?

Kalau dia mau produktif beneran, harusnya dia berhenti baca buku, berhenti datang ke acara networking, lalu mulai melakukan aktivitas yang mendekatkan dia ke tujuan akhirnya.

Dia bukan mau mecahin rekor Pembaca Buku Startup Terbanyak Tahun 2020 kan? Dia bukan mau dapetin predikat Startup Enthusiast Tergaul di Indonesia kan? Dia mau jadi pendiri startup!

Kalau dia mau produktif beneran, dia bisa:

  • Riset kecil-kecilan supaya ngerti kebutuhan pasar (validasi bahasa kerennya)
  • Siapin bahan-bahan marketing sederhana (segmentation, targeting, positoning, unique selling point)
  • Bikin prototype atau MVP supaya cepat dapet feedback dari pengguna (website atau aplikasi sederhana)

Jadi, selama kamu belum menghasilkan apa-apa, kamu belum boleh mengaku produktif.

Aku pun pernah mengalami fase produktif palsu.

Aku merasa produktif setelah membaca buku selama berjam-jam. Wajar karena membaca memang sepenting itu untuk orang yang mau menulis buku.

Tapi ya kembali lagi…

Realitanya, aku tidak menulis. Aku tidak menjadi semakin dekat dengan targetku (menyelesaikan buku pertama).

Aku cuma berdiri di garis start. Padahal, jarak antara garis start dan garis finish hanya bisa dilintasi dengan cara menulis. Baca buku tidak mendekatkanku ke garis finish. Ikut kelas online pun tidak.

Menulis adalah satu-satunya cara.

So, sebelum mengaku produktif, tanyakan ini pada diri sendiri.

  • Garis finish apa yang mau kamu capai?
  • Aktivitas apa yang mendekatkanmu ke sana?

Jangan pernah mengaku produktif kalau kamu belum melakukan aktivitas yang mendekatkan kamu ke garis finish itu.